Jan Maringka Resmi Jabat JAM Intel

Tidak ada komentar 1214 views

Jakarta – Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan Dr Jan Maringka kini resmi menjabat sebagai Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) Kejaksaan. Jan Maringka dilantik sebagai Jamintel oleh Jaksa Agung M. Prasetyo, Rabu (15/11) pagi, pukul 10:00, di Sasana Baharuddin Lopa, Gedung Utama, Kejagung.

Karir Jan Maringka di lingkungan Kejaksaan dimulai pada 1989 dengan menjadi CPNS di Inspektorat Tindak Pidana Umum Kejaksaan Agung.

Dua tahun kemudian menjadi jaksa fungsional di Kejari Jakarta Pusat. Setelah beberapa kali menjalani tour of duty dan tour of Area di berbagai posisi, akhirnya pada Juli 2003 menjabat kajari Tarakan.

Karir pria kelahiran Jakarta 11 Oktober 1963 itu kian moncer karena setahun kemudian menjadi Kabid Kejaksaan di Hongkong. Pada 2010 kembali menjabat Kajari di Kota Serang, Banten.

Dua tahun kemudian, menjabat Asisten Umum Jaksa Agung di Biro Umum, menjabat Kepala Biro Hukum dan Hubungan Luar Negeri pada 2014.

Pada akhir 2015, Jaksa Agung melantik Jan Maringka menjadi Kajati Maluku. Tak butuh waktu lama, setelah menjabat Kajati Maluku, Jan kembali dilantik menjadi Kajati Sulsel pada awal 2017. Dan…kini Jaksa Agung M Prasetya lagi-lagi kembali melantiknya pada 15 November 2017 menjadi Jamintel.

Selama lebih kurang delapan bulan menjabat Kajati Sulsel, ada banyak gebrakan yang dilakukan Jan Maringka, seperti program Jaksa Menyapa, melantik Kajari di wilayah tugasnya masing.

Menurut Jan Maringka, garis kebijakan penegakan hukum di wilayah Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dan Barat dibangun berlandaskan strategi Konsolidasi, Optimalisasi dan Pemulihan Public Trust. “Konsolidasi, optimalisasi dan pemulihan public trust itu sebagai tiga elemen dasar yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan,” ujar Jan Maringka.

Optimalisasi dalam pelaksanaan tugas hanya akan dapat dicapai apabila seluruh elemen memiliki komitmen dan kesatuan langkah untuk berjalan mencapai tujuan (Konsolidasi). Di lain sisi, optimalisasi tanpa diiringi oleh public trust hanya akan menjadi sekedar data-data di atas kertas, yang tidak dapat dirasakan dampak dan manfaatnya secara nyata di tengah-tengah masyarakat.

Jan lalu memberikan contoh mengenai strategi konsolidasi yang telah dilakukan Kejati Sulselbar, yakni saat menggelar upacara puncak peringatan Hari Bhakti Adhyaksa (HBA) pada 22 Juli 2017 kemarin. Upacara HBA tidak lagi dilakukan secara sendiri-sendiri oleh masing-masing Kejaksaan Negeri, melainkan diselenggarakan secara terpadu di lima wilayah di Sulselbar.

Contoh konkrit lainnya yakni melantik Kepala Kejaksaan Negeri di lokasi penugasan masing-masing. Hal ini tidak lain dimaksudkan sebagai upaya jajaran kejaksaan untuk semakin mendekatkan diri dengan jajaran pemerintah daerah, sesama unsur Forkopimda, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda serta segenap lapisan masyarakat sebagai mitra kerjanya yang tidak dapat dipisahkan dalam upaya mendukung keberhasilan tugas-tugas korps Adhyaksa di tengah masyarakat.

Kejati Sulselbar juga telah membentuk jaksa penghubung. Hal ini sebagai langkah persiapan pembentukan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Barat. Pembentukan jaksa penghubung Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan pada Provinsi Sulawesi Barat untuk mengkoordinasikan pelaksanaan tugas-tugas Kejaksaan di wilayah Provinsi Sulawesi Barat.

Langkah optimalisasi dilakukan dengan mengoptimal peran TP4D, optimalisai peran Jaksa Pengacara Negara serta memprioritaskan perkara berkualitas. (gus)