Kantin Kejujuran Itu Ibarat Cermin Tabiat Pelajar

Sudah seharusnya dalam pendidikan di sekolah tidak hanya ditunjukan dengan adanya penyaluran pengetahuan dari pendidik ke peserta didik. Tetapi sekolah juga berfungsi untuk menanamkan pendidikan berkarakter kepada peserta didiknya. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu dengan didirikannya kantin kejujuran.

Hal itu diungkapkan Kasi II Bidang Intelijen Kejati Sulawesi Selatan Dedy Irwan Virantama saat berbicara dalam acara pertemuan dengan Pembina Kantin kejujuran SD dan SMP Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2017, Senin (22/5/2017) lalu.

Dalam kesempatan itu, Deddy menjelaskan bahwa sejak pertama kali Kantin Kejujuran diresmikan pada periode Jaksa Agung Hendarman Supanji tahun 2008 silam, kantin kejujuran telah dijadikan salah satu program pengembangan modul pelatihan nilai kejujuran siswa di Provinsi Sulawesi selatan.

Berdasarkan hasil evaluasi kantin kejujuran yang telah ada selama ini terdapat dua kondisi, yakni banyak kantin kejujuran yang mengalami kerugian atau bangkrut dan kantin kejujuran yang mengalami kemajuan.

“Mengasah nilai kejujuran bukan hanya dari keadaan rugi atau untung kantin kejujuran tetapi ternyata membangun karakter, mental, dan nilai luhur. Kejujuran memerlukan kontinuitas ,” ujar Deddy Virantama.

Pengembangan  kantin kejujuran butuh konsep pengembangan yang lebih modern yaitu dengan mengsinergikan modul kewirausahaan bagi siswa dengan dukungan seluruh stake holder khususnya pelaku bisnis sehingga antara pengembangan sikap mental dan kewirausahaan jadi satu kesatuan. “Dalam memperingati Hari Bhakti Adhyaksa, Kejati Sulsel akan melombakan kantin kejujuran ini,” ujarnya.

Ditambahkannya, kehadiran kantin kejujuran bisa menjadi ajang pembelajaran bagi generasi muda tentang pentingnya kejujuran terhadap diri sendiri, yang pada akhirnya akan bermuara kepada lahirnya generasi yang menghormati kejujuran sekaligus memunculkan generasi antikorupsi.

Ada hal pokok yang membedakan kantin kejujuran dengan kantin pada umumnya, yaitu tiadanya penjaga kantin atau kasir sehingga si pembeli harus mengambil sendiri makanan dan minuman yang diinginkan, lalu menyelesaikan sendiri pembayarannya. Si pembeli meletakkan uang tepat sejumlah rupiah yang harus dibayarkannya di kotak uang. Jika uangnya lebih besar daripada harga yang harus dia bayar, uang kembali dia ambil sendiri dari kotak uang itu.

“Kantin kejujuran itu ibarat cermin yang merefleksikan tabiat para siswa di sekolah tersebut. Jika tak bertahan lama karena bangkrut, bisa dipastikan murid di sekolah itu tak berlaku jujur. Sebaliknya, kantin kejujuran akan semakin maju saat semua murid memegang tinggi asas kejujuran dalam kesehariannya,” ujar Deddy Virantama.

Kantin Kejujuran  itu didesain untuk menyiapkan pelajar menjadi generasi yang jujur, yang antikorupsi. Kantin Kejujuran bertujuan agar murid mendapat pelajaran untuk selalu jujur saat transaksi jual beli. Murid yang lain diharapkan juga ikut saling mengawasi agar semua tetap bersikap jujur dalam melakukan transaksi di KK itu sekalipun tak ada yang menjaga. Itulah sebentuk kontribusi sekolah bagi usaha pemberantasan korupsi.