Rugikan Negara Rp 7 M, Ketua Koperasi Singara Gowa Dijebloskan ke Penjara

Kasi Intel Kejari Gowa Arif sesaat sebelum membawa tersangka RP ke Rutan Makassar

Kejaksaan Negeri Gowa langsung menjebloskan RP ke dalam Rutan Makassar setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus penyalahgunaan dana dari Kementerian Koperasi, Senin (19/6) petang.

RP yang merupakan Ketua Koperasi Singara itu diperiksa selama enam jam di ruang Kasi Intel Kejari Gowa dengan perkara penyalahgunakan bantuan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah KUMKM) Kementerian Koperasi sebesar Rp 7 M 2003 lalu.

Kepala Kejaksaan Negeri Gowa Susanto, kepada media menjelaskan jika koperasi Singara milik tersangka saat itu menerima bantuan dari Kementerian Koperasi sebesar Rp 7 M.

“tapi dia tidak menyalurkan dana bantuan tersebut kepada nasabah untuk simpan pinjam. malah menggunakan untuk kepentingan pribadi yang tidak sesuai peruntukannya,” katanya.

Penetapan RP setelah pihak penyidik kejaksaan menyita beberapa dokumen dan memeriksa saksi-saksi yang hasilnya adanya tindak pidana korupsi mengarah ke dia sehingga langsung menetapkan sebagai tersangka.

“alasan subyektif bahwa pasal sangkaan terhadap tersangka diancaman hukuman lebih dari lima tahun, dan alasan penyidik dikhawatirkan tersangka melarikan diri”.

Selain menahan, penyidik Kejari Gowa juga menyita uang tunai Rp. 320.000.000 yang merupakan hasil kejahatan dari penyalahgunaan dana di Koperasi Singara.

Tersangka disangka dengan Pasal 2 ayat (1) UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 dengan ancaman pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat empat tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit Rp 200.000.000 dan paling banyak Rp 1.000.000.000.

Selain itu tersangka juga disangka Pasal 3 UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat satu tahun dan paling lama 20 tahun dan atau denda paling sedikit Rp 50.000.000dan paling banyak Rp 1.000.000.000. (*)

Sumber : Tribun Makassar